Aprizal Menilai Seniman Kampar ‘Hidup Enggan Mati Tak Mau’

1
1778

Bangkinang(auramedia.co) – Kondisi seniman di kabupaten Kampar saat ini sangat memperhatinkan, pasalnya semenjak lima tahun belakangan ini para seniman tidak memiliki ruang gerak untuk menyalurkan bakatnya.

Hal itu diakui oleh entertaimen seniman Kampar, M. Ali Usman ketika didampingi Roni Astar menjambangi kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di kota Bangkinang, Kamis (8/9/2016).

Usman Ali menyebutkan, 50 lebih usaha orgen tunggal di Kampar ini mengalami penurunan, dan bahkan sebagian ada yang mati, karena tidak mendapatkan ruang kebebasan atau perizinan dari pemerintah setempat.

Dijelaskannya, matinya usaha orgen tunggal ini disebabkan tidak mendapatkan izin dari pihak kepolisian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah Kampar itu sendiri.

“Penegak hukum dan majelis ulama tidak sejalan, polisi dan mui saling melempar bolah terkait perizinan untuk musisi manggung. Sehingga pengusaha dibidang seni mengalami kerugian, Pemerintah tolong menghargai posisi seni dan berikan ruang gerak dan berikan fasilitas untuk menunjang penyaluran bakat mereka,” tegasnya.

“Seharusnya pemerintah juga memberikan ruang gerak untuk pengembangan kreatifitas musisi ini,” sambung Ali.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kampar yang juga merupakan ketua PWI Kampar Afrizal SE menilai seniman Kampar saat ini mati suri serta sangat menyayangkan kebijakan pemerintah terhadap hal ini, dia menyebutkan bahwa sudah seharusnya pemerintah memberikan support kepada seniman.

“Mari kita bersama- sama dalam mengembangkan bakat seni ini. Kalau seperti ini akan ditakutkan pemuda dan masyarakat kampar mencari hiburan ke luar, dan itu akan berdampak bahaya bagi masyarakat kita sendiri, dan putaran uang pun juga terjadi didaerah lain,” kesal Afrizal.

Lebih jauh, Afrizal juga membandingkan Kampar ini dengan kabupaten lain, “Kenapa pemerintah kabupaten lain bisa mendukung dunia seni ini, sementara pemerintah kabupaten Kampar menutup rezki dunia seni. Jangan karena kabupaten Kampar kota serambih meka seni dibatasi, tetap positif kita memandang dunia seni ini, jangan pernah memandang dunia seni ini dari segi negatifnya, saat nya kampar menyalurkan kreatifitasnya lewat seni,” tutupnya.(***)

1 KOMENTAR

  1. Diumpakanlah “kesenian kabupaten” kampar sebuah ”PERAHU” yang dilayarkan disebuah sungai, bukan samudera, dulu masih sempat singgah dipelabuhan-pelabuhan, meneken buku ke syahbandar, sekalian menjual barang bawaannya kepada masyarakat bandar yang disinggahi, namun sebenarnya perahu itu telah berlayar sendiri dengan arah tujuan pelabuhan yang sedang menunggunya. Tetapi musim sekarang lebih payah lagi, perahu itu susah singgah apalagi nak bertambat.
    Sungguh memprtihatinkan. Kesenian Kabupaten kampar secara keseluruhan macam tak bertuan. Seni musik pop/dangdut daerah berjalan sediri kemana ia mau pergi dengan tertatih-tatih. Seni Musik Tradisi hanya tinggal dihati beberapa orang tua. Festival penyanyi lagu daerah tak ada lagi. Sayembara cipta lagu daerah tak pernah dibuat lagi. Seni Musik Komposisi lumayan masih diberi tempat pengiring tari dan mengisi festival musik inovasi dan musik hitam putih. Musik Islami (rebana, berzanji, hadrah, kompang, nasid ) betul-betul mati. Musik vokal tradisi, satu-satu dibawa pergi oleh seniman yang telah renta tanpa usaha regenerasi. Seni sastra hidup hanya dilingkungan sekolah dan lomba seni siswa. Seni sastra lisan tradisi dan cerita rakyat satu-satu juga pergi tanpa usaha dokumntas. Seni teater Tradisi (randai, sijobang) mati. Teater modern tak lagi nampak batang hidungnya. Seni Rupa tradisi (ornamen dirumah lontiok) lapuk runtuh bersama rumah lontioknya tanpa usaha penyelamatan. Seni Rupa modern tak dipeduli, sehingga penggiatnya pada lari……Wadah pembinaan sseperti gedung kesenian, balai latihan seniman, taman budaya dsb. tak pernah di peduli. KALAULAH BEGIGNI, BEGINI….. apa nasibnya SENI dalam MASYARAKAT kampar…akan karam di tengah sungadan bangkainya hanyut hilang kelaut lepas dan kita akan terbawa pergi menumpang bersama perahu atau bahtera Kesenian orang laiin dalam Globalisasi Budaya Dunia

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.