Bayi Umur Dua Hari Jadi Korban Banjir, Jadi Sudah 6 Korban Meninggal Dunia

0
1063

Limapuluh Kota(auramedia.co)– Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, bertambah menjadi enam orang. Bayi berusia dua hari pun jadi korban.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, bayi berusia dua hari itu tewas setelah terendam banjir.

“Informasi dari Posko, bayi meninggal di Puskesmas Pangkalan. Kronologinya setelah prosesi kelahiran di puskesmas kemudian bayi dimasukkan inkubator pada Rabu (1/3/2017). Saat masih dalam inkubator, tiba-tiba air deras masuk dan merendam Puskesmas Pangkalan sehingga bayi tidak dapat diselamatkan pada 2/3/2017. Saat kejadian, listrik padam karena banyak tiang listrik roboh terkena longsor,” jelas Sutopo dalam rilisnya, Minggu (5/3/2017) malam.

Sebelumnya, ada lima korban meninggal dunia yang telah dirilis yakni Doni Fernandes (33 tahun) karena tertimbun longsor, Teja (19 tahun) karena tertimbun longsor, Yogi Saputra (23 tahun) karena tertimbun longsor, Karudin (25 tahun) karena tertimbun longsor, dan Muklis (45 tahun) karena hanyut banjir. Korban luka berat karena longsor adalah Syamsul Bahri (22 tahun) dan Candra (42 tahun).

Menurut Sutopo, banjir dan longsor terjadi pada 25 titik (13 titik longsor dan 12 titik banjir). Longsor tersebar pada sembilan titik di Kecamatan Pangkalan. Sedangkan banjir tersebar pada tujuh kecamatan dengan titik banjir tertinggi mencapai 1,5 meter di Kecamatan Pangkalan yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Batang Maek di Kecamatan Pangkalan, Sungai Batang Kapur di Kecamatan Kapur IX, Sungai Batang Sinamar di Lareh Sago Halaban, dan Sungai Batang Harau di Kecamatan Harau.

Hingga saat ini, lanjut Sutopo, akses jalan nasional yang menghubungkan Sumatera Barat-Riau putus dan belum dapat dilalui akibat longsor. Sebagian material longsor sudah dibersihkan dengan mengerahkan alat berat. Namun ada ruas jalan yang longsor dan ambles sehingga perlu perbaikan.

“BNPB terus mendampingi BPBD dalam penanganan darurat. Kepala BNPB, Deputi Penanganan Darurat BNPB dan personel Tim Reaksi Cepat telah berada di lokasi bencana. Koordinasi dengan Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota dan unsur lainnya dilakukan,” jelasnya.

Sutopo menambahkan, BNPB menyerahkan bantuan Rp500 juta dana siap pakai untuk operasional penanganan darurat kepada BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota. BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, Tagana, PMI, SKPD, relawan, dan masyarakat melakukan penanganan darurat. Bantuan terus dikirim ke lokasi bencana. Sebagian besar masyarakat telah kembali ke rumah masing-masing membersihkan rumah karena banjir sudah surut.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah alat berat, mobil tangki air, makanan siap saji, permakanan, air bersih, peralatan rumah untuk membersihkan lumpur, dan obat-obatan,” pungkasnya.(SNC/AMC)