Militan Rohingya : Kami Mati atau Mereka yang Mati!

0
474
Polisi Myanmar saat mengawal staf PBB usai serangan ARSA pada Agustus 2017 (REUTERS/Soe Zeya Tun)

YANGON (auramedia.co) – Militan lokal di Rakhine, Myanmar, yang menyebut diri sebagai Tentara Keselamatan Arakan Rohingya (ARSA) tengah menjadi sorotan. Kelompok ini menyerang militer Myanmar dan mengklaim berjuang untuk memulihkan hak-hak warga Rohingya.

Seperti dilansir media Inggris, The Guardian, Senin (4/9/2017), nama militan ARSA marak diberitakan beberapa pekan terakhir, setelah konflik kembali pecah di Rakhine. Kata ‘Arakan’ dalam nama ARSA merupakan sebutan lain untuk wilayah Rakhine, yang banyak ditinggali etnis muslim Rohingya.

Otoritas Myanmar telah menyatakan ARSA sebagai organisasi teroris. ARSA kini tengah diburu militer Myanmar, setelah mendalangi rentetan serangan. Pemerintah Myanmar menyebut ratusan militan ARSA dengan senjata api, tongkat dan peledak rakitan melancarkan serangan terkoordinasi terhadap pos-pos keamanan polisi di Rakhine bagian utara pada 25 Agustus lalu. Serangan itu menewaskan 12 anggota pasukan keamanan Myanmar.

Pemerintah Myanmar menyebut ARSA sebagai ‘ekstremis teroris Benggala’, merujuk pada sebutan mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Myanmar juga menuding ARSA telah membantai warga sipil di Rakhine.

Melalui Twitter, ARSA memang mengklaim bertanggung jawab atas rentetan serangan terhadap pos kepolisian Myanmar beberapa waktu terakhir. Namun ARSA menegaskan diri sebagai pejuang kebebasan dan menyebut serangan itu sebagai ‘langkah sah’ untuk mengembalikan hak-hak Rohingya, yang tertindas dan tidak memiliki status kewarganegaraan di Myanmar.

Sumber : detik.com

(auramedia.co)