Pengakuan Warga Rohingya yang Jadi Anggota Militan ARSA

0
489
Tentara Myanmar tiba di Buthidaung, Rakhine usai serangan ARSA (REUTERS/Soe Zeya Tun)

YANGON (auramedia.co) – Militan Rohingya bernama Tentara Keselamatan Arakan Rohingya (ARSA) di negara bagian Rakhine terang-terangan melawan militer Myanmar. Salah satu anggota ARSA memberikan sedikit gambaran soal kelompok yang telah dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Myanmar ini.

Seperti dilansir media Inggris, The Guardian, Senin (4/9/2017), Hashem (26) yang seorang warga Rohingya mengaku telah bergabung dengan militan ARSA. Hashem bersedia berbicara via sambungan telepon dari sebuah kamp pengungsian di Bangladesh. Hashem mengakui kelompoknya memang melakukan serangkaian penculikan, terutama terhadap para informan. Namun dia membantah tuduhan bahwa kelompoknya membunuh warga sipil.

“Iya, benar terkadang kita menculik mereka dan menyekap mereka selama beberapa hari. Kami memotivasi mereka,” tuturnya dari sebuah kamp pengungsian di Bangladesh.

Lebih lanjut, Hashem mengaku dirinya bergabung dengan ARSA atas dorongan ‘warga senior’ di desanya di Maungdaw. “Itu urusan rahasia di Arakan. Terkadang kami menggelar rapat, terkadang kami berkomunikasi melalui telepon genggam tapi sangat sulit untuk selalu bersama,” tuturnya. Arakan merupakan sebutan lain untuk wilayah Rakhine.

“Warga senior memberitahu saya: ‘Ini (Rakhine) negara kita. Kita harus mengurusnya. Ini adalah bangsa kita,” ucap Hashem lagi.

Selain menjaring anggotanya secara sukarela, ada beberapa kasus saat ARSA menekan warga untuk bergabung. “Ada dua kelompok: kelompok yang sungguh ingin bergabung atas kemauan sendiri dan kelompok “moderat terdidik” yang sungguh-sungguh ketakutan atas diri mereka dan keluarga mereka, mereka tidak ingin menjadi bagian dari ini,” tutur Gabrielle Aron, seorang konsultan dan staf LSM yang tinggal dan bekerja di Myanmar.

Sumber :detik.com

(auramedia.co)