Aktivis Kembali Demo UPTT, Ternyata Ini Masalahnya

0
2282

BANGKINANG KOTA(auramedia.co) – Kampus Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UPTT), Senin (26/02/2018) kembali diselimuti oleh asap hitam. Asap tebal berasal aksi demonstrasi bakar ban bekas yang dilakukan oleh beberapa orang aktivis mahasiswa Kampar.

Sebelumnya, UPTT juga didemo oleh mahasiswa yang sama terkait persoalan biaya perkuliahan di Universitas tersebut. Setelah itu beberapa orang aktivis dari kampus tersebut melakukan aksi demonstrasi menuntut kebijakan kampus yang tidak membolehkan mahasiswanya mengikuti ujian akhir semester beberapa waktu lalu.

Namun aksi demonstrasi tersebut berbuntut panjang hingga pihak Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai mengeluarkan surat Droup Out (DO) kepada beberapa orang aktivis kampus yang melakukan aksi demonstrasi.

Muhammad Ababil dari Fakultas Sains dan Teknologi UPTT yang mendapatkan surat Droup Out tersebut menanggapi bahwa kebijakan yang di keluarkan oleh rektor Universitas Pahlawan terhadap beberapa aktivis kampusnya sama saja menciderai demokrasi di Indonesia.

Yang mana sudah diatur dalam Undang-undang No.9 tahun 1998 yang mengatur tentang kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum. Namun kenyataannya, Universitas Pahlawan mengecam tindakan mahasiswa yang melakukan demonstrasi dikampus. “Yang melanggar hukum sebenarnya siapa?,” ungkap Muhammad Ababil sambil kesal.

Korlap Aksi demonstrasi, Tri Wahyudi dari jurusan Teknik Informatika fakultas Sains dan Teknologi mengatakan, Rektor Universitas pahlawan tidak paham dengan hukum demokrasi di Indonesia, kok mahasiswanya mengkritik kampus mendapat balasan Droup Out.

“Ini kampus rasa-rasa di Orde Baru saja, siapa yang kritis maka hilang tak tahu keberadaan nya seperti yang dialami para aktivis pada masa itu,” ungkapnya.

Tri juga menambahkan, pihak kampus seharusnya melakukan kajian terlebih dahulu sebelum mengeluarkan surat Droup Out terhadap saudara ababil. “Inikan Universitas baru dan jurusan yang ada juga pun baru percobaan, tapi kok begini perlakuan kampus kepada mahasiswanya? Yang namanya orang tua kepada anaknya yang salah pasti dinasehati dan dibicarakan baik-baik bukan mengeluarkan anaknya dari Kartu Keluarga,” kesalnya.

Sementara itu, salah seorang aktivis kampus dari Fakultas Sains Dan Teknologi, Taufit Hidayat mengatakan, mahasiswa yang merupakan lapisan kritis sekaligus wakil suara hati rakyat dan sebagai generasi pelurus bangsa tidak akan mundur selangkahpun dalam memperjuangkan keadilan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tercantum dalam sila ke 5 Pancasila yang menjadi pedoman berdirinya Republik Indonesia. Ini merupakan hak dan kewajiban negara memberikan keadilan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Jangan hanya orang berduit saja dibolehkan menempuh pendidikan tinggi.

“Ini koreksi dan pesan dari kita untuk Mentri Pendidikan Republik Indonesia agar mengkontrol kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan di Universitas Negri ataupun Swasta di Indonesia,” ungkap Taufit Hidayat

Kemudian, Korlap Aksi Tri menambahkan, apabila tuntutan aksi meminta Rektor mencabut surat Droup Out terhadap Ababil tidak di realisasikan pihak Universitas Pahlawan, maka dirinya dan aktivis lainnya akan melakukan aksi di KOPERTIS Wilayah X dan PTUN Pekanbaru-Riau hingga tuntutan mereka terealisasi.

Aksi demonstrasi sempat memanas ketika masa aksi memaksa menerobos masuk gedung rektorat Universitas Pahlawan yang dijaga ketat oleh Satpam Rektorat dan sempat terjadi dorong-dorongan antara masa aksi dan Satpam ketika Rektor Universitas Pahlawan keluar dari gedung rektorat.

Namun masa aksi tidak dapat meminta tanggapan dari Rektor Universitas pahlawan yang ketika keluar dari gedung Rektorat langsung pergi dengan menggunakan mobil Kijang Innova.

Tidak dapat penjelasan hingga sore hari, masa aksi membubarkan diri dengan damai dan tertib.

(NDs)