Disbud Riau Sudah Seminggu Berkantor di Rumah Anita

0
217

PEKANBARU(auramedia.co) – Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud Riau) Yoserizal Zein berkantor di rumah Anita Farida Pateh Ali, di Jalan Kesehatan Kecamatan Senapelan.

Anita sendiri adalah Cucu dari Pateh Ali serta cicit dari H Sulaiman, seorang saudagar kaya raya berdarah India yang menetap di Senapelan pada tahun 1923 silam.

Di rumah ini, banyak ditemukan peninggalan benda-beda perniagaan yang memiliki nilai sejarah, diantaranya kain sutra, kain sari bersulam perak serta keramik China pada antara zaman Dinasti Yuan dan Dinasti Ming, ada juga uang logam zaman dulu dari berbagai negara.

“Sudah seminggu kami berkantor di sini untuk menginventarisir barang yang memiliki nilai sejarah. Ada kita temukan keramik peninggalan anatara zaman Yuan dan Ming. Ada juga kain sutra, kain sari bersulam perak,” kata Anita dikediamannya yang masih berasitektur lama, Senin (14/5/18).

Selain benda-benda bernilai sejarah tersebut, hasil inventarsir sementara yang dilakukan jajaran Disbud Riau, setidaknya ada 191 dokumen yang ditemukan dari peninggalan Pateh Ali.

Dokumen penting seperti surat-surat penting hasil perniagaan. Ada juga paspor Patimah, nenek dari Anita yang masih berbahan kain. Berbeda dengan paspor umumnya saat ini berbahan kertas.

Dipaspor yang terlihat sudah menguning tersebut berbahasa Belanda serta tertulis pembuatan dokumen paspor pada tahun 1937.

“Dari sini kita coba inventarisir serta menguak sejarah Pekanbaru,” ujar Yoserizal.

Ada pun catatan dari hasil inventarisir sementara, bukti Pateh Ali berdasarkan keterangan Anita seorang yang kaya raya, banyak aset berupa tanah yang telah dihibahkannya. Diantaranya sebagian area PT Chevron yang dulu bernama Calex.

Tidak hanya itu, Pateh Ali juga berkontribusi untuk pembangunan Mesjid Raya Senapelan yang kini sudah berganti nama menjadi Mesjid Agung Senapelan.

Sementara Anita juga menceritakan di rumahnya yang kini sudah terhimpit pesatnya pembangunan di Senapelan, juga terdapat terowongan. Lokasi yang perlihatkan Anita bersama Kadisbud Riau ini masih tertutup tanah dan bersemak.

Namun menurut Anita, pada awal 80-an, sewaktu dirinya masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD), pernah dilakukan penggalian secara tak sengaja untuk kepentingan membuat sumur oleh keluarganya.

Namun saat dilakukan penggalian yang jaraknya hanya beberapa meter, ditemukan banyak keramik yang tidak seperti umumnya yan ada di Indonesia. Selain itu, ada juga sempat ditemukan berbahan perak, kemudian ada juga topi termasuk bayonet yang diduga peninggalan tentara Jepang.

Sayangnya cerita Anita, penggalian itu tidak dilakukan lebih dalam. Mengingingat karena setiap dilakukan usaha penggalian, selalu saja terkena serpihan keramik yang pecah akibat terkena cangkul.

“Waktu itu kita lakukan penggailan sumur di sini (belakang rumah). Tapi setiap kita cangkul selalu saja kena keramik. Ada juga waktu itu topi Jepang, bayonet sepertinya pisau di ujung senjata yang biasa dipakai tentara Jepang, banyaklah lagi. Tapikan waktu itukan kami tak mengerti, saya jug masih kecil, SD entah kelas berapa. Jadi akhirnya ditutup lagi,” papar Anita.

Sampai sekarang, menurut cerita Anita lagi, lokasi di belakang rumah yang diklaim sebagai bunker tersebut belum pernah ada usaha untuk mencari tahu, apakah bunker seperti diceritakan dalam keluarganya, bahwa memang ada bunker peninggalan Jepang di kawasan rumahnya tersebut.

Ada pun menurut Anita, rumah yang dulu pernah ditinggalinya Pateh Ali ini adalah bekas peninggalan tentara Jepang.

“Memang keluarga kami bilang katanya memang ada bunker. Katanya bunker yang pernah digali ini tembus ke aliran Sungai Siak,” ungkapnya.

Sumber: MC Riau