Sekda Kampar Menghadiri Acara Halal Bihalal Khatib Adat Desa Koto Mesjid

0
209
Kecamatan XIII Koto Kampar, Auramedia.co – Halal Bihalal Desa koto mesjid dusun III dan IV kampung baru Pembacaan Khatib Adat yang sudah menjadi tradisi adat isti adat sejarah kampung lama sejak nenek moyang terdahulu secara turun temurun yang kembali dilaksanakan setiap tahunnya di desa koto mesjid Dusun III dan IV Masjid AL- HIJRIYAH Kampung baru, minggu(09/06/19).
Pembacaan khatib adat oleh persukuan domo oleh amri ujar
Acara yang ditaja oleh Panitia halal bihalal pemuda/i dan seluruh masyarakat dusun III dan IV kampung baru, dihadiri oleh Sekda Kampar Drs H. Yusri MS.I, Camat XIII Koto Kampar Rahmat Fajri, S.STP, Msi Kepala desa koto mesjid Arjunalis, sekdes beserta jajaran, Ketua BPD pulau gadang, ketua BPD koto mesjid dan anggota, LP2A, LPM, Ninik Mamak Persukuan Piliang,Domo,Melayu,Pitopang dan seluruh masyarakat desa koto mesjid.
Dari sebelah kanan, abdul aziz SH Khalifah makmur, kepala desa koto mesjid, sekda kampar, ketua bpd pulau gadang, camat XIII Koto Kampar, ketua bpd koto mesjid.
Dalam sambutan kepala desa koto mesjid Arjunalis menyampaikan, Acara ini bukan hanya sekedar seremonial saja, tapi ini merupakan acara yang harus di laksanakan tiap tahunnya di desa ini.
“guna untuk menjaga dan melestarikan budaya adat isti adat yang sudah didirikan sejak tahun-tahun dulu mulai dari nenek moyang kita dan sekarang khatib adat ini hanya dilksanakan di 4 desa, desa koto mesjid, pulau gadang, tanjung alai dan sibuak yang ada di kabupaten kampar” ungkap arjunalis.
Pengguntingan pita kehormatan mimbar oleh sekda kampar
Sekda Kampar Drs H. Yusri MS.I dalam sambutannya berantusias untuk melestarikan dan mendukung budaya adit isti adat yang dilaksanakan oleh pemerintahan desa koto mesjid.
“Karna ini adalah budaya adat isti adat yang sangat penting sekali dijaga dan dilestarikan secara terus menerus setiap tahunnya bila perlu adat isti adat ini di bukukan dan dibuat catatan sejarah”. Ungkap Sekda.
Lebih lanjut Yusri juga mengatakan, kegiatan seperti ini adalah kegiatan yang sangat memiliki nilai sejarah yang tidak semua wilayah memilikinya. Ini adalah budaya kearifan lokal, adat isti adat yang tidak semuanya orang punya. Makanya acara-acara  seperti ini perlu kita lestarikan bersama, perlu kita rawat dan kita jaga.
“Kenapa demikian, karna tidak bisa kita hari ini membuat dan menoreh sejarah kalau bukan sejarah itu panjang dari turun temurun. Bisa kita membuat candi hari ini, bisa kita buat masjid yang luar biasa tapi nilai sejarahnya tidak bisa kita urutkan. Sama juga seperti ini bisa kita buat dan ciptakan acara hari ni tapi itukan hari ini kurang  sejarah payah kita menulis dan membuatnya Makanya yang langkah seperti ini perlu dipertahankan dan dilestarikan jangan sampai hilang”.ungkap Yusri.
(Harisep).