Muslimawati Catur disambut Bahagia Keluarga Besar Persukuan Mandeliong Kenegerian Bangkinang

0
339

Muara Uwai, Auramesdia.co – “Mancai dahan tompek inggok, mancai toluk tompek istirahat”, begitulah kalimat adat yang sering dibaca pada setiap prosesi kegiatan adat dalam mancai atau maambiok suku di nagoghi adat Kampar. Kegiatan Pulang Bainduok Bamamak Hj. Muslimawati Catur ke Persukuan Mandeliong kenegerian Bangkinang merupakan prosesi adat yang patut dilestarikan. Setiap orang yang datang dari daerah luar dan menetap menjadi warga Kabupaten Kampar yang merupakan daerah beradat semestinya mencari keluarga di Kampar. Mencari keluarga di kampar merupakan hal yang terdapat dalam hukum adat Kampar yang disebut dengan Pulang Bainduok Bamamak.

Salah Seorang Ninik Mamak Kampar, Abdullah Datuk Paduko Sindo
Salah seorang ninik mamak Kampar, Abdullah Datuk Paduko Sindo di sela kegiatan pulang bainduok bamamak Hj. Muslimawati Catur ke persukuan Mandeliong Kenegerian Bangkinang kepada wartawan, (30/01/20) mengatakan, bahwa pulang bainduok tersebut merupakan kegiatan adat. kegiatan ini dilakukan oleh persukuan yang menerima seseorang yang ingin menjadi keluarga dan masuk dalam persukuannya. Pada kegiatan pulang bainduok ini, orang yang mencari suku (keluarga) tersebut akan diumumkan kepada orang nagoghi’ bahwa orang yang bersangkutan sudah menjadi keluarga mereka melalui persetujuan ninik mamak persukuan tersebut.

lebih lanjut Abdullah mengatakan, bahwa setelah orang tersebut diterima menjadi anak kamanakan pada persukuan tersebut, maka seseorang itu menjadi keluarga besar pada persukuan tersebut hingga akhir hayatnya. Seluruh keturunannya akan menjadi keluarga pada persukuan yang dimasukinya tersebut. Anak kamanakan yang baru tersebut akan menjadi tanggung jawab ninik mamak hingga akhir hayatnya, baik siang maupun malam.

Hj. Muslimawati Catur didampingi Suami yang Merupakan Bupati Kampar, H. Catur Sugeng Susanto, SH saat diumumkan ke orang negeri bahwa Muslimawati sudah menjadi Keluarga besar Persukuan Mandeliong Kenegerian Bangkinang.
Sementara itu, Ninik mamak Persukuan Mandeliong Kenegerian Bangkinang, Drs. H. Yusri, M.Si Datuk Bandaro Mudo menyambut baik niat Hj. Muslimawati Catur untuk pulang bainduok bamamak ke persukuan Mandeliong Kenegerian Bangkinang. “Kalau ndak cukuik juo tapak tangan, juo niyu kan kami tampung”, begitulah kalimat yang menggambarkan kegembiraan masuknya Hj. Muslimawati Catur ke Persukuan Mandeliong.

Setelah diumumkan ke seluruh masyarakat di depan pintu rumah godang milik Ibunda Yusri dari persukuan Mandeliong kenegerian Bangkinang, Yusri Datuk Bandaro Mudo mengatakan, bahwa mulai hari ini, dunsanak kami yang baru akan menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya. Baik Siang maupun malam hingga akhir hayatnya. Seluruh keluarga dunsanak yang baru sudah menjadi keluarga besar persukuan Mandeliong Kenegerian Bangkinang, ungkap Yusri.

Sementara itu, Suami Hj. Muslimawati yang merupakan Bupati Kabupaten Kampar, H. Catur Sugeng Susanto, SH mengaju sangat bahagia dengan diterimanya isterinya sebagai keluarga besar Persukuan Mandeliong Kenegerian Bangkinang. Catur Sugeng juga mengungkapkan, bahwa Muslimawati masuk ke persukuan Mandeliong merupakan keinginan dari dirinya sendiri. Catur merasa bahagia karena isteri dan keluarga besarnya dapat diterima menjadi keluarga besar Persukuan Mandeliong Kenegerian Bangkinang.

Dihadapan dunsanak persukuan mandeliong dan ratusan masyarakat yang hadir, Catur juga menyampaikan, bahwa dirinya juga akan masuk suku Domo Kenegerian Petapahan.
“Insya Allah besok pagi, saya juga akan masuk ke Suku Domo Kenegerian Petapahan”, ungkap Catur.

Lebih lanjut Catur Sugeng mengatakan, bahwa keinginan untuk pulang bainduk mancai suku lahir karena keinginan dari hati nurani. Catur mengaku sangat memahami kalimat, ” Di mano Bumi Dipijak, Disitu langik dijunjuong” (Di mana Bumi Di Pijak Di Situ Langit kita Junjung). Artinya, setiap tamu yang baru harus bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat yang ditempatinya. Sebagai orang yang datang dari Jawa, Catur yang sudah menjadi masyarakat Kampar memahami betul dan sangat menghargai hukum adat dan kebudayaan lokal daerah Kampar yang saat ini dipimpinnya.(adi jondri).