Ketika Akhirnya Harus Berguru Ke Tukang Batu

0
296

Yogyakarta, Auramedia.co – “TUHANKU, AKU KALAH”, adalah lukisan kaca pertama yg saya buat. Pelajarannya tidak diperoleh dari pelukis glass painting, melainkan dari seorang tukang batu. Uniknya, terjadi di tempat para pelukis, seniman hebat dan intelektual kampus berkumpul.

Pada tg 12 September 1986, saya mengisi acara Sarasehan Kaligrafi yg diiringi pameran 30 pelukis Yogya atas prakarsa mahasiswa IMM Universitas Gadjah Mada, di Gd. Seni Sono Yogyakarta. Waktu itu merupakan tahun-tahun memanasnya “peperangan terbuka” antar khattat (kaligrafer) yg mempertahankan “kaligrafi murni tradisional” vs para pelukis yg memunculkan gaya baru yg disebut “kaligrafi lukis”. Anehnya, saya selalu membela pelukis.

Tanpa diduga, seorang peserta mengajukan pertanyaan: “Kalau lukisan Pak Sirojuddin yg mana ya?” — Whaduh! Saya tdk bisa menjawab dan kesulitan kasih alasan. Sebab, saya tidak ikut pameran, bahkan belum pernah melukis kaligrafi.

Alhamdulillah. Tidak disangka, seorang wartawan _Kedaulatan Rakyat_ Sangpurwaning tiba2 ngebantuin menjawab: “Mas Didin itu pelukis buku. Hanya berteori.” — Whalaaaaah… ini lebih gawat. Tapi mas Pur tidak salah. Sebab, dia tahu kalau saya hanya menulis buku2 dan artikel kaligrafi. Cuma menganalisa tapi tidak melukisnya.

Duuuuuuh. Di ruangan diskusi itu, sontak saya terpuruk, merasa jadi orang kalah yg g bisa apa2. Merasa paling bodoh sedunia. Kenapa tidak bisa melukis kaligrafi, kerjanya cuma ngecap di mana2. Pikiran pun jadi kalut, mondar-mandir membayangkan “nasib orang bodoh” yg gak jelas juntrungannya. Bahkan suka bikin repot orang lain. Terngiang cerita Nabi Isa yg sanggup menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati atas ijin Allah. Tapi waktu ditanya “Ya Rasulullah, apakah obat untuk menyembuhkan penyakit kebodohan?” Nabi Isa malah menjawab: “Waaah, yg itu mah saya gak tau.” — Teringat lagi kpd Ibrahim bin Adhom. Ketika ditanya: “Ya Syeikh, beritahu saya ttg batas2 kebodohan!”, e tokoh sufi itu menjawab: “Duh, saya juga tidak tahu sampai di mana ya batas2 kebodohan itu.”

— Persis iklan rokok E Mild *”Genius itu terbatas, Bodoh tak terbatas.”* Orang bodoh susah diatur. Selalu kalah. Gampang ditipu. Seolah sayalah orang bodoh yg mengenaskan itu.

Saya pun cari akal. Di ruang pameran itu ada lukisan kaligrafi kaca yg menarik perhatian saya. Pelukisnya Sutarmuji, kuli bangunan yg bertugas menata batu-bata untuk fondasi rumah. Sekolahnya hanya setingkat SD tapi pintar melukis di kaca secara otodidak. “Ji, ajarin saya melukis kaca ya,” pinta saya sambil mengundangnya ke hotel tempat saya nginap.

Sampai malam larut di penginapan. Tanpa alat peraga apa pun, Sutarmuji menjelaskan detail2 teknik melukis kaca dan saya menyimaknya dg serius. Dimulai dari peralatan yg harus disiapkan, yaitu kertas kalkir transparan untuk disain huruf, slotipe, pulpen rapido untuk garis kontur, cat minyak, kuas beberapa ukuran, baskom plastik, kaca setebal 2-3 mm, minyak tanah, dan roll tissue. Ini adalah perkakas standar lukisan kaca untuk obyek2 *MANUSIA* dg rupa2 kegiatannya, *BINATANG* Buraq, macan, burung, dan kuda; *KALIGRAFI* huruf2 lepas, wafaq atau sekedar pemanis bidang lukisan, dan *WAYANG* utk melambangkan tokoh wayang atau adegan cerita pewayangan. Terakhir, guruku mendemonstrasikan tahap2 melukis “in absensia”. Diawali dari pembuatan disain di kertas kalkir lalu menempelkannya secara terbalik di kaca. Dari sebrang disain, cat digoreskan mengikuti huruf yg terbalik. Setelah kering, dilakukan peneraan warna latar dg mencelupkan punggung kaca ke air di baskom yg sudah ditawuri cat warna-warni. Tunggu kering. _Finishing touchnya_ dg menambahkan pembilasan back ground yg belum tertutup cat dg cat yg berwarna opposite warna2 sebelumnya. Selesai sudah sebuah “lukisan fiktif” dibuat, _alhamdulillah._ (“Terimakasih guruku. Sekarang aku dapat ilmu baru karena kemuliaanmu.”).

Sepulang ke rumah, dg semangat menggebu, saya langsung melukis di kaca. Ini berarti setahun sebelum saya mulai melukis di kanvas. Temanya tentang do’a orang kalah yg terambil dari _Hizib Nashor_ dan jeritan Nabi Nuh yg merasa terus-terusan dikalahkan oleh kaumnya dalam Alquran Surat Al-Qomar ayat 10:
ربّ إنّي مغلوبً فانتَصِر
_”Tuhanku, sesungguhnya aku kalah. Maka tolonglah aku.”_ Lewat guruku yg ikhlas, Allah menolongku dari kekalahan dan kebodohan.

Ditulis Oleh : Dr. Didin Sirojuddin Ar Lemka