Wakil Ketua MPR Zulkifli Hasan Bicara Pancasila di Ratusan Mahasiswa UIR

0
189

Pekanbaru, Auramedia.co-Wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhas) mengurai soal kedudukan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan ideologi negara. Ratusan mahasiswa Fakultas Ekonomi UIR yang memadati auditorium lantai IV Gedung Rektorat Universitas Islam Riau, Senin siang (24/02 2020), menyimak paparan mantan Ketua MPR itu secara serius.

Zulhas tiba di Kampus UIR Jalan Kaharuddin Nasution 113 Perhentian Marpoyan Pekanbaru pukul 10.45 wib menggunakan mobil alfard warna putih. Ia berada satu mobil dengan Gubernur Riau Drs H Syamsuar setelah mendarat di Bandara International Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Bersama Zulhas ikut pula Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir, Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effend, Danrem 031/WB, sejumlah anggota DPRD Riau dari Partai Amanah Nasional juga ikut menyertai kedatangan Menteri Kehutanan di era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono itu.

Tiba di Kampus UIR, Zulhas langsung disambut atraksi pencak silat oleh mahasiswa UIR. Wakil Rektor II UIR Dr Asrol bersama Dekan Fakultas Ekonomi Drs Abrar, Kepala BAAK Ir Akmar Efendi dan belasan dosen Universitas Islam Riau bergegas membawa tamunya ke auditorium lantai IV Gedung Rektorat untuk menjadi pembicara dalam ‘Seminar Nasional dan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Bang Zulhas Bicara Pancasila untuk Indonesia’.

Kepada mahasiswa, Zulhas menegaskan bahwa Pancasila merupakan pemersatu bangsa, dan sudah menjadi kesepakatan bangsa Indonesia melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang bersidang pada 18 Agustus 1945. Dalam sidang yang diketuai Ir Soekarno itu, para pendiri bangsa telah sepakat menempatkan Pancasila menjadi falsafah bangsa dan ideologi negara (way of life).

”Pancasila bukan pemecah bangsa, bukan membuat bangsa ini terkotak-kotak. Jadi jangan pertentangkan Pancasila dengan agama,” kata Zulhas.

Ia juga menyinggung soal piagam Jakarta yang dirumuskan BPUPKI. Dalam sidangnya pada tanggal 22 Juni 1945, BPUPKI telah bersepakat menempatkan Piagam Jakarta dengan bunyi ‘kewajiban menjalankan syariat Islam bagi peeluk-pemuluknya’, sebagai dasar negara. Akan tetapi pada malam setelah proklamasi dibacakan oleh Proklamator Soekarno-Hatta datang protes dari Indonesia Timur.

Protes itu disampaikan kepada Bung Hatta selaku anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). ”Di sinilah diuji kebesaran umat Islam. Tapi walau demikian mereka akhirnya sepakat mencoret kalimat dalam Piagam Jakarta, dan mengubahnya menjadi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’.

”Kata tokoh-tokoh Islam waktu itu, silakan diubah asal kita merdeka dan tetap bersatu,” tegas Zulhas.

Karena itu Zulhas mengajak mahasiswa tidak mempertentangkan hari lahir Pancasila. Apakah tanggal 1 Juni, 22 Juni atau 18 Agustus. Menurut Zulhas, ketiga tanggal tersebut merupakan satu rangkaian yang saling mengikat dan menjadi filosofi bangsa. Mari terus kita jalankan dan kita amalkan nilai-nilai Pancasila untuk menjaga stabilitas dan keutuhan NKRI.

“Tanda kita merdeka adalah kita bersatu,” ucap Zulhas.*