Rumah Pengasingan Bung Karno Di Bengkulu (1938-1942)

0
308

Bengkulu, auramedia.co – Bung Karno adalah kisah sejarah tokoh besar bangsa Indonesia. Bung Karno dilahirkan pada awal abad ke 19, tepatnya pada 6 Juni 1901 di Blitar Jawa Timur dari Ayah Soekemi Sosrodihardjo dan Ibu Ida Ayu Nyoman Rai. Soekarno merupakan sosok langkah yang dimiliki bangsa Indonesia. Sejak kecil Soekarno hidup di tengah nuansa pergerakan rakyat pribumi nusantara melawan kolonial penjajah Belanda.

Sejak Remaja, Soekarno berguru langsung kepada tokoh pergerakan Serikat Islam (SI) yaitu H.O.S. Tjokro Aminoto di Surabaya. Bersama dengan beberapa tokoh bangsa lainnya seperti Musso (pimpinan PKI), Kartosoewirjo (pimpinan DI/TII). Pada saat itulah, Soekarno mulai tahu kondisi Nusantara sedang berada dibawah penjajahan kolonial Belanda penuh dengan kekejaman dan kezaliman terhadap rakyat pribumi Nusantara.

Jiwa nasionalisme Soekarno mulai tumbuh setelah berada dalam didikan H.O.S Tjokroaminoto. Seokarno semakin memahami bahwa kolonial penjajah Belanda menganggap pribumi adalah manusia kelas dua. Kolonial Belanda sangat kejam dan jauh dari nilai-nilai kemanusian. Perampasan hak dan pengambilan paksa hasil panen rakyat, kemudian kerja rodi adalah aktifitas biasa dilakukan Belanda kepada Pribumi.

Fenomena penindasan oleh kolonial Belanda, lalu membuat tumbuh jiwa perlawanan Soekarno seperti yang dilakukan oleh H.O.S Tjokroaminoto dan tokoh lainnya saat itu. Dalam menjalankan aktifitas pergerakan, baik H.O.S Tjokroaminoto bahkan Soekarno serta tokoh-tokoh pergerakan lainnya sering ditangkap, dipenjara dan dibuang oleh kolonial Belanda ke daerah terpencil agar tidak bisa memberikan semangat kaum pribumi nusantara agar berjuang melawan penjajah dan keluar dari penderitaan berkepanjangan.

Gerakan dan aktifitas Soekarno semakin menggebu dan massif ketika pada tahun 1921 melanjutkan kuliah di Technische te Bandoeng (ITB). Saat di Bandung Soekarno memimpin pergerakan rakyat dengan mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) pada tahun 1927. Melalui PNI Soekarno menghimpun massa dan kekuatan untuk bangkit berjuang melawan Belanda. Gerakan Seokarno ini dianggap membahayakan Belanda. Oleh karena itu, Soekarno ditangkap dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin di Bandung pada tahun 1930. Setelah melakukan pledoi yang dikenal “Indonesia Menggugat” di hadapan hakim di pengadilan negeri Bandung, pada 18 Desember 1931 Seokarno dibebaskan dianggap tidak bersalah.

Usai bebas dari dakwaan, Soekarno semakin hari membangun kekuatan melalui PNI dan kemudian pada tahun 1932 bergabung bersama Partindo (Partai Indonesia) merupakan pecahan PNI. Bersama teman-temannya seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Ahmad Soebardjo, Mr Seopomo dan tokoh-tokoh lainnya, Soekarno terus melakukan pergerakan dan menghimpun kekuatan serta perlawanan. Kemudian pada tahun 1933 Soekarno ditangkap dengan tuduhan melakukan pergerakan dan menghimpun pribumi agar melawan Belanda, lalu dibuang ke Ende Nusa Tenggara Timur. Usai dibuang ke Ende, pada tahun 1938 – 1942 Seokarno diasingkan di Pulau Andalas yaitu Bencoolen (baca : Bengkulu).

Bung Karno 1938 – 1942 di Bencoolen

Dari sinilah awal mula ceritanya, bersama istrinya Inggit Garnasih dan ketiga anak angkatnya menyertai Soekarno saat dibuang ke Ende dan Bencoolen. Saat di Bencoolen Soekarno mendiami sebuah rumah di daerah Anggut Atas, kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu. Dirumah panggung khas rakyat Bengkulu tersebut, memiliki kisah sejarah dimana pernah dihuni tokoh besar bangsa Indonesia sang Proklamator Bung Karno.

Cerita bermula di kota Bengkulu. Saat itu, Soekarno diberikan tugas untuk mengajar salah satu sekolah rakyat Muhammadiyah oleh salah satu tokoh Muhammadiyah Bengkulu yaitu Hasan Din. Ketika mengajar di kelas, dimana Seokarno tertarik dengan seorang gadis muda beliau yang cerdas dan berani bernama Fatmawati, ananda dari tokoh Muhammadiyah Hasan Din. Namun, Bung Karno ketika itu masih memiliki istri sah yaitu Inggit dan umur dengan gadis Fatmawati terpaut sekitar 20 tahun. Akan tetapi niatan dan cinta tersebut, akhirnya membuat Seokarno berpisah dengan Inggit Garnasih dan menikahi Fatmawati pada tahun 1943 yang diwakili oleh penghulu. Karena saat itu, Bung Karno sudah dibawa ke Jakarta oleh kolonial penjajah Jepang.

Singkat cerita, dari pernikahan Bung Karno dengan Fatmawati, dikarunia 5 putra dan putri yaitu Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Sebelum proklamasi kemerdekaan RI, bunda Agung Fatmawati menjahit bendera merah putih saat hamil pertama. Kemudian 17 Agustus 1945, bendera merah putih yang dijahit oleh Bunda Agung Fatmawati yang dinaikkan saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai saat ini bendera sangsaka merah putih tersebut sebagai benda bersejarah di museum sejarah Indonesia.

Rumah kediaman Soekarno di Anggut Atas menjadi bukti otentik sejarah bahwa pemimpin besar revolusioner Republik Indonesia pernah mendiami provinsi Bengkulu dan Bunda Agung Fatmawati adalah ibu negara RI pertama merupakan putri Bengkulu. Berkat jasanya sebagai ibu negara secara resmi selama hampir 20 tahun (1945 – 1965), Bunda Agung Fatmawati di anugerahi gelar pahlawan Kemerdekaan RI. Semoga kedepan khususnya generasi muda Bengkulu menjadikan Bunda Agung Fatmawati Soekrano sebagai sosok kebanggaan.(Jakarta, Universitas Indonesia, 3 Maret 2020).

Penulis : R. Andriadi Achmad (Putra Asli Kabupaten Lebong Bengkulu dan menetap di Jakarta).