Pemikiran Dangkal Dalam Mengatasi Kekurangan APD Bagi Tenaga Medis di Negeri Tercinta

0
156
Bangkinang kota, Auramedia.co – Siang ini, (14/04/20) Setelah melaksanakan sholat zhuhur di Mesjid Al-Muhajirin Komplek Perkantoran Bupati Kampar, diriku menghampiri bang Aprizal Khan yang merupakan senior  seprofesiku sebagai Jurnalis di wilayah Kabupaten Kampar.
Kepada bang Aprizal saya mempertanyakan, apakah benar TPP pak Sekda Kampar itu besarnya Rp.75 juta dan para Kadis eselon II sebesar Rp. 30 juta. Karena informasi ini saya dapatkan dari hasil diskusi saya dalam sebuah ‘WatsApp group Kampar Maju’ dengan bung Riyan yang merupakan mantan aktivis Kampar yang saat ini sudah berprofesi sama dengan diriku sebagai jurnalis di wilayah negeri Serambi Mekkahnya Provinsi Riau.
pertanyaan saya kepada bang Aprizal karena adanya dorongan dari dalam hati mengingat kondisi saat ini.
Saya sangat prihatin dengan sebuah berita yang pernah saya tulis tentang ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) di seluruh Puskesmas di Wilayah Kabupaten Kampar.
APD yang dijumpai oleh anggota DPRD Kampar Fraksi NasDem, H. Mohd. Kasru Syam saat memantau salah satu Puskesmas di Kabupaten Kampar

Dalam berita tersebut, sesuai hasil dari pantauan anggota DPRD Kampar atas nama H. Mohd. Kasru Syam dari Fraksi NasDem mengungkapkan, bahwa Pemda Kampar hanya menyediakan 2 (dua) unit APD pada seluruh Puskesmas yang dikunjunginya. APD yang dua unit tersebut juga dinilai oleh wakil rakyat tersebut tidak sesuai dengan protokoler kesehatan.

Setelah membuat berita tersebut, saya menilai, Pemda Kampar mungkin belum memiliki anggaran yang resmi dalam membeli atau pengadaan APD yang cukup dan APD yang layak sesuai dengan protokeler kesehatan. karena saat saya konfirmasi, Kadis kesehatan Kabupaten Kampar hanya mengucapkan terima kasih atas masukan dari anggota DPRD tersebut tanpa menjelaskan dengan rinci terhadap kondisi dan persoalan yang ada.
Setelah saya bertanya kepada bang Aprizal, apakah informasi yang disampaikan oleh Bung Riyan tersebut benar, namun bang Aprizal tidak bisa memberikan jawabannya  secara pasti dan benar.
Karena tidak mendapatkan jawaban yang benar, saya kemudian menghubungi Sekretaris DPRD Kabupaten Kampar, Ramlah, SE. M. Si melalui seluler pribadinya 081378783xxx. kepada kakak terbaik tersebut saya bertanya, apakah TPP kakak sama besarnya dengan TPP Kadis di lingkungan Pemda Kampar?. apakah TPP kakak besarnya Rp. 30 juta?.
namun kakak terbaikku tersebut tidak memberikan jawaban yang pasti. beliau hanya berkata, kalau untuk hal itu, kakak  no comment, katanya.
Kemudian saya menghubungi Kadis Kesehatan Kabupaten Kampar, Dedy Sambudi, S. Kes. M.Kes. kepada bang Dedi saya bertanya berapa harga APD yang sesuai dengan protokoler kesehatan 1 unit?, bang Dedy dengan suara yang merdu mengatakan, harganya berpariasi dinda. namun untuk harga yang pastinya bang Dedi menyarankan saya bertanya kepada kak Popy. dan bang Dedy juga berjanji akan mengirimkan nomor kak Popy kepada diriku.
Sebenarnya, mulai dari diskusi dan pertanyaan saya kepada beberapa orang tersebut, saya hanya berharap agar seluruh tenaga medis di Kabupaten kampar ini memiliki APD yang layak sesuai dengan protokoler kesehatan. Semoga tenaga medis kita tidak memakai APD yang mengkuatirkan keselamatan mereka dan kita semua Seperti foto APD yang diperlihatkan oleh anggota DPRD Kampar kepada saya beberapa hari yang lalu.
karena jika tenaga medis kita tidak dilengkapi dengan APD yang layak, ditakutkan mereka nanti terpapar virus corona akibat mereka melakukan kontak langsung dengan pasien virus corona yang mereka tangani. mengingat penyebaran virus corona terlalu cepat dan mengkuatirkan kita semua.
Dalam hati ketika berada dalam mesjid yang hening tersebut saya berpikir, jikalah informasi yang disampaikan oleh bung Riyan itu benar.
Di mana bung Riyan mengatakan, bahwa “data nya A1 , TPP kadis sebesar 30 JT, Sekda 75 JT”, maka jika pak Sekda yang juga merupakan salah seorang ninik mamak di negeri ini mengajak seluruh kepala OPD untuk sedikit berhati mulia menyikapi penyebaran virus corona dengan menyumbangkan sedikit penghasilan TPPnya untuk membeli APD bagi tenaga medis, mungkin untuk membeli 2 (dua) unit APD bagi tenaga medis di seluruh Puskesmas yang ada tidaklah terlalu sulit dengan kebersamaan mereka. Jika sumbangan pak Sekda dan seluruh pak kadis masih kurang, tidak mungkin pak Bupati tidak ikutan berhati mulia pula untuk membabtu hal tersebut. Jika sumbangan pak Bupati, pak Sekda dan pak Kadis masih kurang, tidak mungkin pula para wakil rakyat di negeri ini tidak terpanggil hatinya untuk memberikan solusi. Mungkin jika semua pejabat yang di atas bersama-sama menghimpun kekuatan, mungkin tidak hanya APD bagi tenaga medis yang teratasi, tetapi bantuan-bantuan yang lain dalam menghadapi serangan cpvid’19 juga akan terselesaikan.
“Tapi sudahlah, mungkin ini hanya pemikiranku yang dangkal”, ungkapku dalam hati.(Adi Jondri)