MTQ2 Di Tengah Pendemi, “Bom Kaligrafi Meledak Di Mana-mana”.

0
266

ي ف🔹📖🔸🔲📝✒خط
MTQ2 di Tengah Pandemi:
*BOM KALIGRAFI*
*MELEDAK DI MANA-MANA*
(Didin Sirojuddin AR)

*KALIGRAFI* tambah ngetrend saja. Seperti bom, ledakannya berdentuman ke mana-mana. Setidaknya, itu terdengar dari arena MTQ (مسابقة تلاوة القرآن) Provinsi Jawa Barat dan Sumatera Utara barusan, di tengah persebaran Corona Virus Desease 19 yang belum ngasih tanda-tanda mau berhenti. Sebelumnya: Papua Barat dan Banten, dan Kepulauan Bangka Belitung yg jadi pelopor penyelenggara MTQ di tengah pandemi yang mengerikan ini. Akan menyusul beberapa hari lagi Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tenggara. Puncak ledakannya akan berdentum di bulan November pada saat MTQ Nasional XXVIII/2020 di Padang, Sumatera Barat. Seperti musik orkestra: nada, gaya, dan kualitas estetiknya seirama dan sama-sama hebatnya.

Dari sayembara hitam putih Naskhi & Tsulus sederhana di MTQ Nasional XI/1981 di Banda Aceh, kaligrafi kini berkembang pesat. Musabaqah Khat Al-Qur’an (MKQ) yang semula disebut Golongan *PENULISAN BUKU* kemudian jadi Golongan *NASKAH* ini melombakan kepiawaian mengolah khat-khat Naskhi, Tsulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Kufi, dan Riq’ah. Kini peserta tidak hanya menguasai “mazhab huruf” tapi meloncat ke “mazhab guru” yang jadi modal bersaing dalam kompetisi- ikompetisi kaligrafi internasional di Turki, Irak, Iran, Pakistan, Yordania, Marokko, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Pelajaran dari MTQ di Dalam Negeri jadi kendaraan untuk merebut prestasi di Luar Negeri.
Golongan *HIASAN MUSHAF & DEKORASI* semakin berkembang, dapat dilihat pada:
• GAGASAN DESAINnya yang tambah beragam,
• BAHASA RUPA dengan kekayaan warna dan ornamen yang visioner,
• UNSUR AKSARA yang sempurna berpadu antara kebenaran kaidah dan keindahan tata susunnya,
• APLIKASI KARYA di luar MTQ, seperti pameran, penulisan mushaf daerah, dekorasi mesjid dan gedung-gedung lain, souvenir, dan, tentu saja, permintaan pasar dari para pembeli yang mengantri. Lapak-lapak on line kaligrafi bermunculan dan dibuka di mana-mana, menjual lukisan dan buku kaligrafi, peralatan rupa-rupa kalam dan kuas, tinta, cat, ragam kertas, kanvas, dll.


Puncaknya, ledakan *KALIGRAFI KONTEMPORER* sebagai Golongan terbaru. Bukan hanya pelukis, santri dan peserta MKQ tiga Golongan pun ikut hanyut dan banyak yang hijrah ke kaligrafi kontemporer. Selain mengasyikkan karena dapat dilukis dengan kebebasan ekspresi penuh, kaligrafi kontemporer Tradisional, Simbolik, Figural, Ekspresionis, dan Abstrak juga jadi “gula-gula” karena berhasil mengangkat kaligrafi jadi lapangan usaha yang menggiurkan. Asyiknyaaaaa….
KALIGRAFI sebagai _rahmatan lil khattatin_ telah dibuktikan dalam hiruk-pikuk kegiatan terutamanya para kaligrafer MTQ yang “nomadik” (pergi lomba sana-sini biar jadi juara sana-sini); menghasilkan karya seni yang merupakan kombinasi antara bentuk dan fungsi untuk beramal dan meraup pundi-pundi Rupiah. Pandemi Corona samasekali tidak menyurutkan para kaligrafer muda untuk berinovasi, malah melahirkan karya-karya baru yang semakin unik dan cantik dahsyat-dahsyat. ماشاء الله saya senaaaang melihatnya. 👍😆🔸🔹✍️
“DUAAAAAARR!!!” bom kaligrafi teruuuuus meledak-ledak. Tapi para kaligrafer happyyyyy menikmati
cipratannya. 😆🔸🔹