DARI SABAH, MENGGALI MISTERI KHAT DIWANI JALI

0
496

Oleh : Didin Sirojuddin AR

_Alhamdulillah,_ saya dengan Isep Misbah dan Abdul Baqi Abu Bakar dari Malaysia mendapat kehormatan tugas penjurian secara virtual hasil *Pertandingan Kaligrari Jawi (Khat) Borneo Sabah 2020.* Seperti beberapakali lomba sebelumnya, Lomba Borneo tahun ini pun mempertandingkan khat Diwani Jali plus Diwani Adi. Kenapa selalu ada Diwani Jalinya? Inilah yg bikin saya penasaran. Tambah gregetan, melihat khat Diwani Jali ada di mana2. Baju2 T-shirt kaligrafi pun banyak berukir Diwani Jali. Hasil dari penyusuran TKPP (Tempat Kaligrafi Punya Perkara) dan setelah tanya sana-sini, akhirnya saya ketemu jawabannya, bahwa “orang2 Malaysia, memang, sangat menyukai khat Diwani Jali”. Wah, ini koq kebalikan dari saya, karena saya pernah “membenci” khat Diwani Jali. Nah, dari sini kisah itu dimulai.
Rasa kurang sreg pada khat Diwani Jali ciptaan Syahlan Pasha dari Turki Usmani, karena gaya kaligrafi ini _yatagolgolu_ (يتغلغل) alias kelewat over atau “keterlaluan” dg rimbunan aksesoris titik2, harokat, dan alamat _tazyin_ (تزيين/hiasan) yg dijejalkan memadati milieu aksara keseluruhan, selain bodi huruf yg terkesan dipaksa harus obesitas. Semua gerak goresannya seperti _yatashonna’u_ (يتصـــنع), dibikin-bikin. Saya menduga orang lain pun nggak suka atau malah ngrasa lebih sebel dari saya. Akibatnya, ketika ikut menyempurnakan jenis2 khat MKQ (مسابقة خط القرآن) pada MTQ Nasional XV/1988 di Bandar Lampung, saya menambahkan khat Diwani ATAU Diwani Jali (dg kata “ATAU” utk menunjukkan pilihan). Namun sikap itu, 9 tahun kemudian, benar2 berubah dan saya pun memupus kata “ATAU” pada MTQNas XVIII/1997 di Kota Jambi, ketika sadar bahwa saya keliru, dan teringat bahwa “ciri2 menyebalkan” itu justeru merupakan “ciri2 keistimewaan” khat Diwani Jali, seperti diapplaus para ahli:
ويتميزالديوانى الجلى بقوة التناسب والمشاكلة، وبزيادة عرض القلم
_*”Diwani Jali* diunggulkan dg kekuatan harmoni dan penerapan harokatnya, plus kelebihan kalamnya yg lebar.”_
Sekarang saya jadi tau. Membenci, sebetulnya, nggak baik. Malah tdk dibenarkan. Nabi SAW juga menyarankan, supaya kita “tdk kelewat membenci dan tdk berlebihan mencintai” sebab suatu saat bisa berbalik arah. Seumpama membuat pilihan “hanya suka kaligrafi klasik sambil membenci kaligrafi kontemporer” atau “maunya kaligrafi kontemporer saja karena lebih mengasyikkan, tapi ogah belajar kaligrafi klasik karena sulit”. Jangan begitu. Semuanya harus dipelajari biar bisa dikuasai semuanya! 🔹🔲✍️
Seperti jenis2 kaligrafi yg lain, Diwani Jali lahir dari produk sejarah dan punya filosofi tersendiri. Diwani Jali lahir dari pengembangan khat Diwani atau Diwani Adi (Diwani Biasa). Diwani sendiri diciptakan akhir abad 10 dan awal abad 11 oleh Ibrahim Munif dari Turki Usmani hasil olahan dari kaligrafi Cina yg menyebar di Negeri Belakang Sungai (بلادماوراءالنهر) saat penaklukan Islam ke wilayah tsb. Maestro Diwani yg paling kreatif adalah Syahlan Pasha yg, karena kejeniusannya, berhasil mengolah Diwani kpd bentuk eksklusif yg disebut Diwani Jali. “Jali” artinya “jelas” (واضح / _wadhih),_ maksudnya “sangat jelas karena detail2 syakal di dalamnya.”
Diwani dan Diwani Jali sama2 dijuluki Khat *Humayuni* (Raja2 Humayun Turki) dan Khat *Muqaddasi.* Dinamakan Khat Muqaddasi (yg berarti “disucikan”), karena dikhususkan sebagai tulisan kesultanan, sedangkan Sultan adalah bayangan Tuhan di bumi. Di sini para khattat membagi khat Diwani kpd 2 bentuk: Diwani Khofi dan Diwani Jali. Diwani Khofi sering digunakan dg mengabaikan syakal dan tanpa hiasan. Ibrahim Munif merancang titik (نقطة) Diwani sama dg titik satu (seukuran ½ sd ⅔ segi empat), titik dua (diagonal persegi panjang), dan titik tiga (berbentuk angka 8 Arab) yg sudah dimiliki Riq’ah. Sedangkan Diwani Jali diberi syakal sepenuhnya. Tapi Syahlan Pasha membuat titik satu, titik dua, dan titik tiganya sama2 berbentuk segi empat total (seperti titik Naskhi) ditambah hiasan dg titik2 gerimis yg detail padat. Di sini para khattat memenuhi ruangan khat, syakal, dan titik dg menempati posisi tulisan dlm ukuran panjang dan lebarnya secara penuh. Bila huruf HA awal (هـ) Diwani mengambil bentuk HA Riq’ah yg dilenturkan pucuknya, HA awal Diwani Jali mengadopsi HA awal Farisi sepenuhnya. Tarwisy Diwani yg semula menjulur vertikal, oleh Syahlan Pasha dimodifikasi menjadi lengkung keriting zulf-i-arusy yg terpisah dari induk hurufnya. Analis kaligrafi Ma’ruf Zureiq menegaskan:
ولايمكن أن يظهرجمال هذاالنوع من الديوانى بغيرهذاالترتيب.وتتطلب كتابته وقتاطويلا.
_”Keindahan Diwani Jali justeru tdk nampak tanpa susunan geometris komponen2 yg padat tersebut. Karena itu pula Diwani Jali ditulis makan waktu yg agak lama.”_
Semua ini merupakan _dynamic performance_ khat Diwani dan Diwani Jali yg digambarkan oleh al-Shouli dg ungkapan:
يخيل إليك كأنه يتحرك وهوساكن
_”Mengusik fantasimu seolah dia bergerak-gerak padahal diam.”_
Sedangkan keindahannya yg menakjubkan dicatat oleh Al-Mutanabbi:
تبدى سكون الحسن فى حركاتها
_”Mengekspresikan kalemnya keindahan dalam gerak-geraknya.”_
“Indah dan gagah” adalah ciri dari dua tipe kaligrafi sekandungan Diwani dan Diwani Jali yg dijuluki khat _mutaraqish_ (متراقص/menari-nari), sama seperti ciri2 kaligrafi Cina yg dikomentari Wang Hsichih, “Indah bagaikan awan yg sedang berarakan dan gagah bagaikan naga yg sedang marah.”
“Maka, keindahan Diwani dan Diwani Jali mana lagi yg hendak engkau dustakan?” Jelas, tidak ada.
Diwani Jali yg semula banyak digunakan utk menulis naskah, sertifikat, dan koresponensi antar negara oleh para sultan Turki Usman, berkembang dan semakin halus menjadi tulisan hias pada abad ke-19 dan 20 terutama di tangan para kaligrafer moderen seperti Syeikh Muhammad Abdul Aziz Al-Rifa’i di Mesir, Syeikh Nasib Makarim di Libanon, dan Hasyim Muhammad Al-Baghdadi di Irak. Keindahan gaya khat ini tambah sempurna di tangan para master kaligrafi mutakhir seperti Sayid Ibrahim (mesir), Muhammad Sa’ad Haddad dan Mus’ad Musthafa Khudir Al-Bursa’id (Mesir), Muhammad Shadiq Al-Hayyat (Syria), Jawad Sabti Al-Najvi, Muhammad Izzat Kirkukli, Jasim Al-Najvi, Walid Al-Azhami (Irak), dan lain lain.
_Khat al-marsum_ atau kaligrafi lukis Diwani Jali yg estetis sangat menggoda para khattat dan pelukis kaligrafi utk mencipta beragam jenis dan pola komposisinya. Namun, secara khusus, khat Diwani Jali terbagi kepada tiga bentuk pokok, yaitu: 1) *Diwani Jali MAHBUK.* “Mahbuk” artinya terstruktur atau tersusun rapi yg diukur menurut حسن التوزيع (keindahan pembagian) dan إحكام الترتيب (aturan komposisi) seperti pada khat Sulus Mahbuk. 2) *Diwani Jali HUMAYUNI,* yaitu kaligrafi yg secara spesifik digunakan utk menulis dokumen atau catatan kesultanan, dan sertifikat kerajaan Humayun Turki. 3) *Diwani Jali ZAURAQI* yg dipengaruhi seni lukis di mana para kaligrafer punya tradisi mengolah gaya tersebut dalam bentuk _zauraq_ atau perahu. Keragaman bentuk Diwani Jali yg pernah “dibenci” ini hanya mengukuhkan sosoknya dan mensejajarkannya dg gaya2 kaligrafi estetis yg lain dlm peta sejarah kaligrafi Islam. Misalnya sejajar dg *Naskhi* yg berkembang kpd Naskhi Qadim dan Naskhi Suhufi. Dg *Sulus* yg beragam kpd Thumar, Muhaqqaq, Rayhani, Tawqi, Riqa atau Ruqa, Sulusain, Sulus Musalsal, Sulus Adi, Sulus Jali, Sulus Mahbuk, Sulus Muta’asir bil Rasm, Sulus Handasi, dan Sulus Mutanazhir. Dg *Farisi* yg melahirkan bentuk2 Ta’liq, Nasta’liq, Syikasteh, Mutanazir, Mukhtazal, dan Mir’at. Dg *Kufi* yg berkembang menjadi Kufi Basith, Musattar atau Murabba atau Handasi Tarbi’i, Mutalasiq, Muwarraq, Muzakhraf atau Muzahhar, Muzayyin Nafsah, Madfur atau Ma’qud atau Mutarabit, Muta’asir bil Rasm, Andalusi, Fatimi, Ayyubi, dan Mamluki.
“Maka, keindahan Diwani dan Diwani Jali mana lagi yg hendak engkau dustakan?” Duuuuuuuh….tidak. Tidak adaaaaa. 🙏🏻😁🔸🔹✍️