ISOLASI MANDIRI ALA PELUKIS KALIGRAFI*

0
303

خطاط ساكن متحرك ✍️🔹😁•••
Kisah Unik Unak Anik Huruf:
*ISOLASI MANDIRI ALA PELUKIS KALIGRAFI*

(Didin Sirojuddin AR)

Karena pandemi corona, lockdown ada di mana2. Yg positif terkena, segera dirawat di RS utk diobati. Ada juga yg milih isolasi mandiri 14 hari di rumah. Belum kelihatan tanda2, kapaaaaan ya virus misterius ini akan stop menyebar dari seluruh bulatan bumi kita. Meskipun teori2 pengobatan telah banyak dikeluarkan, belum ada obat mujarab yg langsung menyembuhkan.
Di sebelah sana, ada kisah2 unik tentang “isolasi mandiri”. Tapi yg ini mah bukan utk berobat atau mencari kesembuhan, melainkan utk mencari pencerahan. Semacam “tapa” begitu. Seperti kisah Panembahan Daqa atau Eyang Dako Lengkong yg konon bertapa di atas daun kadaka, yg namanya disebut-sebut dlm manuskrip tentang silsilah Tarekat Akmaliyah di Leiden. Atau Imam Ghazali yg bertahun-tahun sembunyi di menara Masjid Umawi Damaskus sambil mengarang kitab Ihya. Atau Imam Sibawaihi yg mengurung diri lama di perpustakaan rumahnya utk menulis ilmu Nahwu sampai seluruh kitab karangannya ludes dibakar oleh istrinya 📚😭
“Isolasi mandiri” yg berarti “membatasi diri” atau “mengurung diri” dari ketemu orang lain, pernah juga ngetrend di kalangan penulis/pelukis KALIGRAFI dg masing2 gayanya yg variatif. Itu dilakukan dlm waktu panjang, lebih 14 hari, utk memantapkan tulisan dg berlatih keras dan mati-matian atau dg membuat karya masterpiece, seperti kata mereka:

إن المداومةَ على التمارين اليوميّةِ شرطٌ أساسىّ فى الإجادةِ.
Artinya, “Sesungguhnya, kontinuitas latihan merupakan syarat fundamental untuk mempercantik tulisan.”

Sami Afandi dari Istambul, contohnya, mengurung diri di rumahnya selama 6 bulan hanya utk menulis dua kata dg khat Tsulus Jali di kanvas sebesar jendela terbuka. Sami bahkan pernah beberapa tahun “bersembunyi” hanya utk mengoreksi lukisan-lukisannya sebelum dipamerkan.
Muhammad Rasim (bukan Mustafa Raqim!) yg karyanya dibeli dg batu2 permata mengurung diri selama 10 tahun di padepokannya utk menulis siang malam hingga kaligrafinya mencapai level _place of assembly._ Para pelukis kaligrafi seperti Sami dan Rasim, yg kedua-duanya dari Turki, menunjukkan perhatian sangat serius terhadap aksara dan dg gigih mempercantiknya secara profesional. Bahkan dg tekad “tidak mau berhenti sebelum merasa capek” demi utk mengejar level ذَروة جمالِ الخط _(dzarwatu jamal al-khat)_ atau “puncak keelokan kaligrafi”.
Para khattat atau kaligrafer berangkat dari keyakinan utk memantapkan dulu satu huruf sebelum pindah ke huruf lain. Untuk itu, mereka siap berkorban jiwa raga, meski dg “memenjarakan diri” sekian lama. Ibrahim Al-Syaibani meriwayatkan dari kaligrafer Ali bin Zain Al-Nashrani Al-Katib, “Aku bertanya kepadanya dan minta gambaran tentang kaligrafi. Ali Al-Katib menjawab:

أعلّمك الخطَّ فى كلمةٍ واحدةٍ: “لاتكتبْ حرفاحتّى تستفرِغَ مجهودَك فى كتابةِ الحرفِ، وتجعل فى نفسك أنّك لا تكتبُ غيرَه حتّى تُعجِزَعنه، ثمّ تنتقل إلى مابعدَه”.
Artinya: Aku ajari engkau kaligrafi dlm satu kata: “Jangan tulis satu huruf sampai kau mantap menguasai huruf tsb dan tekadkan dlm dirimu bhw kau tdk menulis selain itu sampai tdk mampu lagi melanjutkan. Kemudian, barulah pindah kpd huruf sesudahnya.”

Ada yg mengatakan bhw “kaligrafi itu persoalan sulit” (الخط أمرصعب). Prof. Arseven meyakinkan bhw “kaligrafi itu seperti lukisan dan musik, menuntut persiapan khusus yg tdk semua orang bisa melakukannya.” Ia menyimpulkan:

نَستطيعُ الجَزمَ بأنّ تكوِينَ الخطّاطِ أصْعَبُ من تكوينِ الرَّسَّامِ.
Artinya: “Dapat kita pastikan, bhw menciptakan seorang kaligrafer lebih sulit dpd menciptakan seorang pelukis.”

Tantangan2 kesulitan itulah yg mendorong para murid sekolah kaligrafi seperti Mir Sauji mengisolasi diri puluhan hari dan berlatih tiap waktu, sehingga ibunyalah yg terpaksa menyuapinya utk ma’em saat Sauji menulis. 😀🍽️ Duuuuh ada2 saja.
Kesulitan yg membuat “rasa kurang puas” dg karya yg sudah dibuat, sering pula terbawa mimpi. Seperti Mustafa Raqim, murid saudaranya Ismail Zuhdi dan Darwisy Ali, saat tidur bermimpi mendapat teguran dari Ismail Zuhdi karena huruf2 Alif di nisannya kurang harmonis. Raqim pun terbangun dan melihat huruf2 Alif di nisan yg ditulisnya benar2 kurang beres lalu memperbaikinya. Kaligrafer besar Turki Hamid Al-Amidi juga pernah ragu dg tataletak Lam-Alif dlm karyanya. Saat duduk sambil ngantuk berat, muncul ilham utk mengoreksi kekeliruannya. Begitu sadar, Hamid pun membetulkan huruf yg posisinya muncang-mencong tsb. 🔹✍️😆
Oya, kalau begitu utk mengejar “level profesional”, penulis atau pelukis kaligrafi harus berapa lama mengisolasi diri? Kaligrafer Naja Al-Mahdawi dari Tunisia tdk peduli dg angka 14 hari, 6 bulan atau 10 tahunnya. Dia menyisihkan lebih 13 jam setiap hari utk bekerja dan ujicoba kontinyu dg gigih dan sungguh2, walaupun terkadang berhasil dan gagal, seperti diakuinya sendiri. Pengamat seni Charbal Dagir mengomentari kegigihan Naja Al-Mahdawi dg kata2 “gila” yg maksudnya gila latihan:

نَجاالمهداوى لايَنتَظِرُ “الحالةَ” مِثلَ ماننتظرُ “الإلهامَ” ….عبَثا. بل يُبادِرُها، يناوِشها، ينازِلها. اللّعبةُ المجنونةُ. نجاالمهداوى ينازلهايوميا. دون مَلَلٍ. دون تردُّدٍ. مثلُ الصّيّاد.
Artinya: “Naja Al-Mahdawi tdk menunggu kasus, seperti halnya kita menunggu ilham, karena hal itu sia2. Justeru dia mengejarnya, mengeruknya, menuruninya. Permainan gila! Naja Al-Mahdawi mengolahnya saban hari, tanpa jemu, tanpa ragu, persis pemburu.”

Itu dilakukan Al-Mahdawi sambil ngendon saja di rumahnya.
Mengurung diri di rumah utk menekuni kerja, ternyata dapat menggandakan hasil kerja. Di Indonesia, mushaf Al-Qur’an, apalagi yg berukuran besar, rata2 ditulis setahun atau lebih. Saya pun menulis 4 Al-Qur’an masing2 sekitar setahun. Dengan mengurung diri dan berkonsentrasi penuh di rumah, Al-Qur’an bisa ditulis lebih cepat. Misalnya, Abdurrahman bin Shayig menulis Al-Qur’an selama 60 hari dg khat Tsulus. Emin Berin menyebut seorang khattat Turki menulis Al-Qur’an 48 hari. Beberapa kaligrafer disebut meluangkan waktu khusus dan berhasil menulis mushaf Al-Qur’an beberapa buah, semisal:
• Muhammad bin Umar Arab Zadah menulis 1000 mushaf,
• Ibnu Khazin menulis 500 mushaf,
• Ibnu Bawab menulis 64 mushaf,
• Mustafa bin Umar Al-Ayubi menulis 48 mushaf,
• Sayid Muhammad bin Ahmad Qaishari menulis 500 mushaf,
• Umar Muhammad Al-Ayubi Al-Kurdi menulis 477 mushaf,
• Ramadhan bin Ismail menulis 400 mushaf,
• Musthafa Hilmi menulis 200 mushaf,
• Faidhullah bin Shun’illah menulis 196 mushaf,
• Musthafa Raqim menulis 100 mushaf,
• Hafizh Waliyuddin menulis 99 mushaf,
• Darwisy Ali Syeikh Tsani menulis 88 mushaf,
• Ibnu Bawab menulis 64 mushaf,
• Ahmad Al-Suhrawardi menulis 33 mushaf,
• Hafizh Usman menulis 25 mushaf,
• Abdul Aziz Al-Rifai menulis 15 mushaf,
• Muhammad Rasim bin Yusuf menulis 60 mushaf,
• Ibnu Muqlah menulis 2 mushaf,
dan masih banyak yg lainnya.

“Ngisolasi mandiri” kenapa takut? Malahan membawa berkah dan sukses besar. الحمدلله jannah…..jannah.
🙏🙏😀🔹🔸📖✍️خ ط

————