Etika Ekonomi Terhadap Kesenjangan Restoran Cepat Saji Selama Masa Pandemi Covid- 19

0
52

(auramedia.co)-Pandemi Covid-19 yang sudah melanda sejak tahun lalu sangat berdampak besar bagi kehidupan manusia. Tidak hanya memengaruhi masalah kesehatan, namun, pandemi turut mengguncang berbagai sektor industri dan bisnis dengan salah satu yang berdampak paling besar adalah usaha kuliner atau Food & Beverage (F&B).

Di tengah pandemi yang belum juga berakhir, para pelaku usaha terus berupaya bangkit dari keterpurukan. Untuk menghadapi segala macam tantangan yang ada, mereka dituntut untuk lebih kreatif dengan lebih memaksimalkan strategi marketing nya baik penjualan melalui online maupun offline.
Selain itu, para pelaku usaha juga harus pandai membaca peluang yang ada di pasar dan kemampuan masyarakat saat ini.

Hal itu penting agar pelaku usaha di bidang kuliner bisa tetap bertahan di tengah ketidakpastian dan sengitnya persaingan.

Dan mengingat diberlakukannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada awal tahun ini, kembali Membuat pelaku usaha mengalami penurunan omset.

Meskipun begitu di masa pandemi ini bisnis yang masih bisa selamat adalah bisnis F&B dengan para pelanggan yang masih bisa dine-in ataupun take away dan juga delivery.

Untuk tetap bisa beroperasi ditengah Pandemi ini pelaku bisnis (F&B) selalu menerapkan protokol kesehatan yang berlaku, dengan berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik demi kesehatan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung setia nya.

Etika ekonomi adalah prilaku ekonomi yang mempunyai norma-norma dalam ekonomi baik secara pribadi, insitusi serta dalam mengambil keputusan dibidang ekonomi, supaya dapat terwujudnya ekonomi yang jujur dan dapat melahirkan persaingan yang sehat dan dapat mendorong terbentuknya kerja sama untuk membantu perekonomian yang lebih maju.
Pelaku usaha kafe dan restoran menyatakan telah mengantisipasi potensi lambannya pemulihan usaha di tengah tren makan di tempat (dine-in) yang sulit kembali ke situasi sebelum pandemi Covid-19.

Sektor makanan dan minuman terkena dampak pandemi corona atau Covid-19, sehingga harus pintar-pintar mencari cara agar dapat bertahan. PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) contohnya, sepanjang Januari hingga September 2020 menanggung rugi Rp 298,34 miliar.
Padahal, periode sama tahun sebelumnya, perusahaan pengelola restoran KFC Indonesia ini masih mencatatkan laba Rp 175,7 miliar.

Kemudian, pengelola gerai Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) harus mencatat rugi periode Januari hingga September 2020 senilai Rp 8,67 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan masih mencatat laba periode berjalan sebesar Rp 149,24 miliar. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, bisnis restoran cepat saji akan terus kesulitan di tengah pandemi Covid-19.

Di sisi lain, Enny menyarankan kepada para pengusaha restoran cepat saji agar memutar otak lebih kencang untuk mencari model bisnis baru, terutama dari sisi pemasaran. Yaitu harus ada inovasi pemasaran, misal kemasan pesan antar, menyediakan layanan pemesanan melalui aplikasi, situs resmi, dan panggilan telepon”.

Penulis : Amonisa Sintia & Thya Puspita Ayu
Dosen Pembimbing : Bapak Agustiawan, SE., M.Sc., Ak
(Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Riau)