Pelanggaran Etika Bisnis  pada Kasus Pinjaman Dana Online

0
103

Kemajuan teknologi berdampak bagi aspek kehidupan ekonomi masyarakat. Munculnya finansial teknologi dalam bentuk pinjaman online memberikan kemudahan untuk mendapatkan dana yang diinginkan dengan waktu yang singkat dan mudah prosesnya. Meskipun lembaga kredit online mampu menjadi solusi keuangan, banyak pula yang merasa dirugikan saat memanfaatkannya. Mulai dari dikenakan bunga yang terlampau tinggi, hingga perlakuan kurang baik dari penagih utang. Tidak sedikit pengguna pinjaman online mengadukan keluhan yang sama.

Mengutip dari laman Kompas.com, adalah YI (51) yang merupakan seorang wanita karier Dia diteror oleh pinjaman online dimana foto-fotonya disebar di media sosial dengan bertuliskan “siap digilir”. Usut demi usut, yang membuat pihak pinjol berani melakukan hal tersebut karena YI telat membayar pinjaman selama dua hari. Padahal menurut kesaksian YI, ia hanya mendapatkan uang sebesar Rp680 ribu dari pengajuan semulanya, yakni Rp1 juta. Sedangkan pihak pinjaman online itu meminta Rp 1.054.000 sebagai bentuk pengembalian pinjaman dalam jangka waktu seminggu.

Dari kasus ini bisa disimpulkan bahwa kasus pinjaman online telah melanggar etika bisnis berkenaan dengan Penipuan, Merekapun sepertinya lebih memilih untuk tidak mengaplikasikan teori etika Deontologi (perbuatan yang baik adalah perbuatan yang dilakukan karena kewajiban dan perbuatan buruk adalah perbuatan yang dilarang untuk dilakukan).

Kemajuan yang dibidang teknologi digital, informasi dan komunikasi yang berbasis aplikasi saat ini telah mendorong berbagai bentuk usaha atau bisnis yang luar biasa pertumbuhannya. Saking kencang dinamikanya, peraturan dan undang-undang yang mengaturnya selalu terlambat beberapa langkah kebelakang.

Setelah ada kasus yang muncul baru peraturan dan undang-undang dibuat. Jadi pemerintah selalu telat untuk mengejar penyimpangan etika bagi sejumlah pengelolaan usaha baru seperti fintch yang katanya jumlahnya sudah ribuan, dan lebih banyak lagi yang tidak memiliki izin alias ilegal.

 

Semoga pemerintah cepat bergerak untuk segera malakukan pengaturan tentang berbabagi sanksi bagi pelanggaran etika bisnis ini. Bukan soal besar atau kecil, tetapi ini soal dunia bisnis dan dunia indutri yang menjadi penopang kemajuan ekonomi negara ini. Bila terus dibiarkan, maka konsumen, masyarakat, pasar dan dunia usaha akan menjadi rusak dan menjadi horor bagi pelaku ekonomi dan bisnis.

Apabila kita sudah sangat terpaksa melakukan pinjaman secara online akibat lilitan utang, kita harus benar-benar memastikan rekam jejak perusahaan tempat kita meminjam dana secara online tersebut. Pastikan perusahaan tersebut memiliki badan hukum dan terdaftar di list perusahaan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pastikan juga kita telah membaca semua syarat dan ketentuan yang diberikan oleh perusahaan pinjaman online itu. Terutama bagian informasi besaran bunga yang mereka tawarkan/tagihkan kepada kita. Intinya adalah check dan Recheck serta selalu berhati-hati.

 

PENULIS :RAHMAD HIRMANM dan MUHAMMAD ADITYA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNISJ

URUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU

 

DOSEN PEMBIMBING : AGUSTIAWAN,SE.,M.Sc., AK