“Innalilahi Wainnailaihi Rojiun”, Selamat jalan Sahabat dan Abang Terbaikku!…

0
508

Siang ini, sekitar pukul 14.40 Wib, bersama dengan Ketua Dewan Penasehat Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kabupaten Kampar, Aprizal Khan, SE, kami duduk dan berdiskusi di salah satu warung sarapan pagi di Jl. DI. Penjaitan Bangkinang yang kami kenal dengan warung “Mintuo”. Diskusi kami siang itu, tidak seperti hari-hari biasanya.

Siang itu, diskusi kami yang biasa santai, penuh keceriaan dan kebahagiaan, berlangsung penuh dengan kesunyian. Hampir tidak ada topik diskusi yang kami bahas siang itu. Suasana warung yang biasanya ramai, siang itu memang dalam keadaan sunyi dari pengunjung. Selain hari itu, adalah hari raya idul adha 1443H/2022M yang dirayakan oleh sebahagian masyarakat Kota Bangkinang, hari itu menjadi hari yang agak sunyi dari kegiatan masyarakat yang mempersiapkan diri untuk merayakan hari raya idul adha pada hari Minggu, (10/07/22).
Di saat kami membahas tentang pembangunan Kota Bangkinang, terutama tentang kelanjutan pembangunan Taman Kota Bangkinang, bersama aktivis HMI Kabupaten Kampar, Bung Pepen, tiba-tiba seluler pribadiku berdering. Ku lihat di panggilan tersebut, nama Kak Yanti isteri bang Mahnizar terbaik muncul di selulerku itu.
Sembari mengangkat telpon dari kak Yanti, firasatku sudah menunjukkan, bahwa sesuatu musibah terjadi dalam keluarga Sakinah Mawaddah Warrahmah tersebut.
Firasatku, kak Yanti akan memberikan Khabar tentang kondisi suaminya. Karena baru beberapa hari yang lalu, saya berkomunikasi dengan kak Yanti. Karena pak Penjabat Bupati Kampar, DR. Kamsol menanyakan kondisi bang Mahnizar saat itu. Pak Kamsol mendapatkan informasi, bahwa ada orang yang menelpon beliau, mengabarkan bang Mahnizar telah dipanggil oleh Allah yang maha kuasa. Untuk memastikan informasi itu, kami menghubungi kak Yanti.
Waktu itu, kak Yanti menjawab, bahwa bang Mahnizar masih diberikan kepercayaan dan kekuasaan oleh Allah untuk menghirup udara di dunia ini. Memang waktu itu, kak Yanti menyebutkan, bahwa kondisi kesehatan bang Mahnizar dalam keadaan buruk dan harus dirawat di rumah sakit.
Setelah menyampaikan informasi kondisi bang Mahnizar kepada Penjabat Bupati Kampar, sembari menyampaikan harapan kak Yanti, agar bisa mendapatkan kursi roda untuk mempermudahkan dirinya membawa bang Mahnizar, yang harus berbolak balik berobat dari kos ke Rumah Sakit.  Pak Kamsol waktu itu, kepada kami menyampaikan, bahwa kursi roda untuk bang Mahnizar akan segera kita persiapkan.
Karena sebelumnya kak Yanti juga pernah meminta bantuan kursi roda kepada Baznas Kampar, kami langsung menghubungi Basnaz Kampar, mempertanyakan bagaimana proses bantuan kursi roda yang diajukan oleh kak Yanti isteri bang Mahnizar. Karena jika bantuan dari Baznas belum ada, tentunya kursi roda akan dibelikan langsung oleh pak Kamsol.
Kepada kami, Ketua Baznas Kampar, Purwadi mengatakan, bahwa bantuan kursi roda untuk bang Mahnizar telah disetujui dan tinggal dibeli dan diantarkan kepada keluarga bang Mahnizar.
Informasi itu, juga kami sampaikan kepada Penjabat Bupati Kampar dan kepada kak Yanti.
Dengan penuh kebahagiaan, kak Yanti mengucapkan terima kasih.
Beberapa hari yang lalu, Ketua Baznas Kampar, mas Purwadi juga menghubungi kami, bahwa Baznas Kampar telah mengantarkan kursi roda yang diajukan oleh keluarga bang Mahnizar. Mendengar informasi tersebut, dalam hati saya hanya berkata, semoga bang Mahnizar segera sembuh dari penyakitnya.
Namun, harapan agar bang Mahnizar  segera sembuh, sirna setelah kak Yanti menyampaikan informasi duka yang sangat mendalam bagi keluarga dan jurnalis Kabupaten Kampar.
Sekitar pukul 14.40 pada Hari Sabtu, (09/07/22), bang Mahnizar dinyatakan telah menghembuskan nafas terakhirnya. Di hari Raya Idhul Adha 1443H/2022M menurut pemahaman Muhammadiyah, bang Mahnizar dipanggil oleh Allah Azza Wajallah.
Dalam hati saya hanya berkata, “Innalilahi Wainnailaihi Rojiun. Selamat jalan Abang terbaikku. Semoga engkau dimasukkan dalam golongan hamba yang diridho’i Allah AZZA Wajallah. Al Fatihaa”, ungkapku dalam hati, sembari mengkabarkan kepada bang Aprizal dan bung Pepen yang duduk di kursi depan mejaku.
Dalam hati saya juga berkata, tidak akan ku lihat lagi senyuman dan tawa khas bang Mahnizar kepada diriku. Tidak akan aku jumpai lagi, sosok sahabat yang jauh dari sifat iri dan dengki.
Tidak akan bertemu lagi, dengan bang Mahnizar sosok sahabat yang tidak mau marah dalam kondisi apapun.
Tidak akan bertemu lagi, dengan bang Mahnizar sosok sahabat penuh tawa dan riang dalam kondisi kebersamaan.
Tidak akan bisa ku jumpai lagi, bang Mahnizar sosok sahabat yang selalu memberikan inspirasi dan motivasi.
Selamat jalan Abang terbaikku,
Aku tahu, engkau adalah Abang yang baik buat adik-adikmu. Beberapa kali, engkau meminta diriku untuk memberikan uang kepada adikmu yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Padahal aku tahu, kondisi keuanganmu juga dalam keadaan yang tidak terlalu baik.
Dalam hati, saya juga berkata, sabarlah kakak Yanti isteri nan sholeha. Kesabaranmu merawat bang Mahnizar selama ini telah teruji.
Engkau adalah sosok isteri penyayang penuh kesabaran.
Engkau adalah sosok isteri sholeha yang yang tabah menghadapi cobaan hidup.
Engkau adalah sosok isteri yang tidak mudah mengeluh dan putus asa.
Perjuanganmu untuk merawat dan mendampingi bang Mahnizar, berobat dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain, adalah sebuah suri tauladan yang patut dicontoh oleh isteri-isteri zaman sekarang.
Janganlah terlalu bersedih kakak terbaikku, ikhlaskan  kepergian bang Mahnizar menghadap Sang Pencipta.
Jangan ratapi kepergiannya, Hapuslah air matamu,,,
yakinlah, kepergian bang Mahnizar adalah takdir dari Sang Ilahi, dan jalan terbaik buat dirinya. Jangan lupa, selalu doakan dirinya, semoga bang Mahnizar yang kita cintai dan sayangi, dimasukkan dalam golongan hamba yang diridho’i Allah Azza Wajallah. Al Fatihaa…(Adi jondri)