KAMMI DAERAH PALEMBANG MENGECAM TINDAKAN REPRESIF APARAT KEPOLISIAN TERHADAP DEMONSTRAN

0
91

Palembang, auramedia.co – Aksi Penolakan Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh Aliansi Cipayung Plus Sumatera Selatan berakhir dengan ditangkapnya sejumlah peserta aksi oleh aparat kepolisian.(07/09/22)

Kronologi penangkapan berawal ketika organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Cipayung Plus Se Sumatera selatan, ingin melakukan orasi secara langsung di Simpang Rs. Charitas Jalan Jend. Sudirman Palembang yang kebetulan jalan tersebut merupakan jalur yang akan dilewati oleh wakil presiden Ma’ruf Amin, Rabu (07/09/2022)
Hal ini disampaikan IPGA koordinator satu aksi saat melakukan jumpa pers dibumi pergerakan Kamboja Palembang, Tujuan dari aksi di Simpang Rs Charitas dengan harapan masyarakat dapat ikut merasakan dan bergabung dalam aksi tersebut.

” Tujuan kami melakukan aksi di Simpang Rs Charitas Palembang untuk menyampaikan sikap tegas Cipayung Plus Se – Sumatera selatan menolak kenaikan harga BBM, dihadapan masyarakat dan wakil Presiden Ma’ruf Amin yang direncanakan jalur tersebut saat melakukan kunjungan di kota Palembang”, kata IPGA

Dilanjutkannya (IPGA), Aksi tersebut merupakan aksi damai yang berubah ketika tindakan reprensif yang mana aparat kepolisan kemudian melakukan penangkapan secara tiba – tiba kepada peserta aksi.
“Pada awalnya aksi yang berjalan aman dan damai berubah menjadi kisruh yang diakibatkan tindakan represif oleh pihak kepolisian yang secara tiba – tiba melakukan penangkapan beberapa peserta aksi dan merupakan ketua beberapa organisasi seperti IPNU, PMII, dan Organda”, Ungkap IPGA

Menanggapi peristiwa penangkapan sejumlah kader KAMMI Daerah Palembang dan beberapa kawan-kawan Cipayung Plus Se-sumatera Selatan pada hari ini, Ketua Umum KAMMI Daerah Palembang Riki Saputra sangat menyanyangkan hal tersebut terjadi.

“Tindakan penangkapan dan respresif yang di lakukan pihak kepolisian hari ini terhadap masa aksi yang di gelar Cipayung plus sangat disayangkan. Hal itu seharusnya tidak perlu dilakukan oleh aparat kepolisian, seharusnya aparat kepolisian memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat di muka umum dan dialog terbuka terkait dengan tuntutan yang kami bawa hari ini.

Kejadian hari ini bukan hanya merusak citra pihak kepolisian di mata mahasiswa tetapi juga di mata masyarakat umum”, Ungkap Riki Saputra

(M.SUHAIMI.SR)